CTL

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Pendidikan, suatu kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Kata pendidikan begitu digembar-gemborkan sebagai salah satu cara efektif membangun suatu bangsa. Kita lihat sejarah jatuh bangunnya suatu bangsa dan peradaban ditentukan oleh tingkat pendidikannya. Islam sampai masa kejayaannya tidak lepas dari akibat memandang pentingnya pendidikan bagi bangsanya.

Pada masa itu pendidikan berkembang pesat, pemikiran-pemikiran dari jaman yunani diterjemahkan, didirikannya pusat-pusat pendidikan seperti di mesir atau di andaluasia dan jadilah pmerintahan islam sebagai suatu pemerintahan super power kala itu. Kemudian islam jatuh dan berkubang dalam lumpur kegelapan tatkala para penguasa islam dan bangsanya menjadi apatis terhadap pendidikan dan ilmu pengetahun, terutama ketika andalausia direbut banngsa eropa kembali dan ilmu pengetahuan mereka berkembang pesat sejak saat itu. dan umat islam sejak itu merasa enggan dan malu untuk kembali belajar malah mengharamkan pengetahuan yang datangnya dari barat, entah itu baik atau buruk. Dan kita lihat sekarang ini islam masih berkubang dan menjadi terbelakang dan tertinggal dari bangsa barat.

Lalu apa itu pendidikan. Menurut kamus besar bahasa indonesia : "pendidikan n proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, pembuatan mendidik;". Mengingat pendidikan itu adalah suatu proses pengubahan sikap atau tata laku seseorang. Maka diperlukan metode yang beragam. Karena manusia itu juga beragam, berbeda-beda kondisi pemikiran dan perasaannya. Maka dalam proses pendidikan tidak seperti seorang petani dan tanamannya. Petani sebagai guru dan murid sebagai tanaman. Dimana tanaman bergantung terus pada sang petani dan petani yang merasa berkuasa untuk menyiram atau memberikan pupuk.

Maka metode pendidikan itu tidak harus kaku dan terbatas. Karena pendidikan itu adalah suatu seni. Lihat saja kata pendidikan dari bahasa yunani yaitu kata Pedagogi, yaitu dari kata paid” artinya anak dan “agogos” artinya membimbing. Itulah sebabnya istilah pedagogi dapat diartikan sebagai “ilmu dan seni mengajar anak (the art and science of teaching children). Maka sudah jelas bahwa dalam pendidikan itu tidak kaku dan terbatas. Seorang pendidikan diharakan dapat mengembangkan metode mengajarnya.

Metode klasikal yang telah digunakan sejak dahulu bukan berarti sudah tidak layak. Tetapi mesti ditambahkan atau di variasikan dengan metode-metode pendidikan terbaru, apalagi metode-metode tersebut biasanya berasal dari sisi humanis. Yang memandang siswa atau warga didik sebagai manusia utuh. Sehingga ketika siswa sudah doerlakukan sebagai manusia secara utuh, maka sisi logika dan psikologinya bisa diangkat di fungsikan secara maksimal. Dan tujuan pendidikan bisa tercapai dengan baik dan efektif. Dan harapan akan kemajuan bangsa akan segera tercapai.

Diantara metode-metode yang dikembangkan salah satunya adalah metode CTL atau contextual teaching and learning. Secara garis besar konsep ini adalah memasukan konsep-konsep kehidupan nyata dipadukan dengan teori-teori ilmu pngetahuan di sekolah. Maka diharapakan para warga didik tidak hanya bisa menguasi teori tetapi memahaminya dari konteks di kehidupan nyata sehari-hari. Suatu konsep metode pendidikan yang mudah dan ternyata penting untuk diaplikasikan dan proses mengajar sekarang ini.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN CTL

Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari,sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas,sedikit demi sedikit,dan dari proses mengkonstruksi sendri sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.

CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.

Pada pembelajaran kontekstual siswa tidak harus menghafal fakta-fakta yang hasilnya tidak tahan lama, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka melalui keaktifan dalam proses pembelajaran. Dengan begitu siswa belajar dari mengalami sendiri. Pembelajaran kontekstual mendorong pendidik memilih atau

mendisain lingkungan pembelajaran. Caranya dengan memadukan sebanyak

mungkin pengalaman belajar, seperti lingkungan sosial, lingkungan budaya, fisik dan lingkungan psikologis dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif - nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara)

B. TEORI YANG MELANDASI CTL

* Knowledge-Based Constructivism, menekankan kepada pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar.

* Effort-Based Learning/Incremental Theory of Intellegence, Bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar akan memotivasi seseorang untuk terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan komitmen untuk belajar.

* Socialization; yang menekankan bahwa belajar merupakan proses sosial yang menentukan tujuan belajar, oleh karenanya, faktor sosial dan budaya perlu diperhatikan selama perencanaan pengajaran.

* Situated Learning; pengetahuan dan pembelajaran harus dikondisikan dalam fisik tertentu dan konteks sosial (masyarakat, rumah, dsb) dalam mencapai tujuan belajar.

* Distributed Learning; manusia merupakan bagian terintegrasi dari proses pembelajaran, oleh karenanya harus berbagi pengetahuan dan tugas-tugas

C. KOMPONEN CTL

a) Konstruktivisme

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong, Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep-konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan dasar itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’ pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalm pross belajar mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru.

Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivis ‘strategi memperoleh’ lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:

a). Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa,

b). Memberi kesenpatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri,

c). Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

Dalam komponen Pembelajaran Kontekstual (CTL). Hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

a). Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal

b). Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan

c). Siswa belajar sedikit-demi sedikit dari konteks terbatas.

d). Siswa mengkonstruk sendiri pemahamannya.

b) Inquiry

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajran berbasis CTL. Pengetahuan dan ketrempailan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus merancang kegiatan yang merancang kegiatan yang merujukpada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkanya.

Langkah-langkah kegiatan menemukan (inkuiri):

a). Merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun)

b). Mengamati atau melakukan observasi

c). Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainya

d). Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audien yang lain.

e). Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman

f). Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis

g). Siklus yang terdiri dari mengamati, bertanya, menganalisis dan merumuskan teori, baik perorangan maupun kelompok.

h). Diawali dengan pengamatan, lalu berkembang untuk memahami konsep/fenomena.

i). Mengembangkan dan menggunakan keterampilan berpikir kritis.

c) Questioning

Pengetahuan yang dimiliki seseorang bermula dari ‘bertanya’. Questioning (bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya daalm pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:

a). Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis

b). Mengecek pemahaman siswa

c). Membangkitkan respon kepada siswa

d). Mengetahui sejauh mana keingin tahuan siswa

e). Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa

f). Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru

g). Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa

h). Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

Bagi Guru

· Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa

· Menuntun siswa berpikir,

· Mengecek pemahaman siswa,

· Membangkitkan respon siswa.

Bagi Siswa

· Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry

· Menggali informasi,

· Menghubungkan dengan pengetahuan yang dimiliki,

· Memecahkan masalah yang dihadapi.

d) Learning Community

Konsep Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari ‘Sharing’ antara teman, antar kelompok dan antara yang tahu dan yang belum tahu. Di ruang ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang ada di luar sana adalah anggota masyarakat belajar.

Praktek masyarakat belajar dalam pembelajaran terwujud dalam:

a). Pembentukan kelompok kecil

b). Pembentukan kelompok besar

c). Mendatangkan ‘ahli’ ke kelas (tokoh olahragawan, dokter perawat, polisi, dsb)

d). Bekerja dengan kelas sederajat

e). Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya

f). Bekerja dengan masyarakat

g). Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar

h). Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri

i). Tukar pengalaman

j). Berbagi ide

k). Berbicara dan berbagi pengalaman dengan orang lain.

l). Ada kerjasama untuk memecahkan masalah.

m). Hasil pembelajaran secara kelompok akan lebih baik daripada belajar sendiri.

n). Ada fasilitator/guru yang memandu proses belajar dalam kelompok.

e) Modeling

Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan ,elibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar.

Pemodelan maksudnya dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa di tiru. Model itu bias berupa cara mengoperasikan sesuatu, atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dalam pembelajaran CTL guru bukan satu-satunya model. Model dapat di rancang dengan melibatkan siswa.

Modeling atau Permodelan:

a). Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar

b). Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya

c). Membahasakan gagasan yang Anda pikirkan.

d). Mendemonstrasikan bagaimana Anda menginginkan para siswa untuk belajar.

e). Melakukan apa yang Anda inginkan agar siswa melakukan.

f). Guru bukan satu-satunya contoh bagi siswa.

g). Model berupa orang, benda, perilaku, dll.

f) Reflection

Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.

Refleksi cara berpikir tentang apa yang baru di pelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru di pelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakn respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima.

Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu siswa akan memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang dipelajarinya. Kunci dari semua itu adalah bagaimana pengetahuan itu mengendap ke benak siswa.

a). Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari

b). Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok

c). Menelaah dan merespon terhadap kejadian, aktivitas, dan pengalaman.

d). Mencatat apa yang telah kita pelajari, bagaimana kita merasakan ide-ide baru.

g) Authentic Assessment

Penialaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil

Assesment merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian, bukanlah untuk mencari informasi tenteng belajar siswa. Pembelajaran yang benar sudah seharusnya ditekankan oada uoaya memebantu siswa agar mampu mempelajari, bukan di tekankan pada diperolehnya sebanyak-banyak mungkin informasi di akhir pembelajaran. Data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang diperoleh siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.

Karakteristik penilaian yang sebenarnya:

a). Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung

b). Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif

c). Yang di ukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta

d). Berkesinambungan

e). Terintegrasi

f). Dapat digunakan sebagai feed back

Authentic Assessment atau Penilaian sebenarnya, yaitu :

a). Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa

b). Penilaian produk (kinerja)

c). Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual

d). Menilai dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber.

e). Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa.

f). Mempersyaratkan penerapan pengetahuan dan keterampilan.

Selama ini pembelajaran dalam pendidikan di sekolah kurang produktif. Guru hanya memberi materi ceramah dan guru sebagai sumber utama pengetahuan, sementara siswa harus menghafal. Tetapi dalam kelas kontekstual guru dituntut untuk menghidupkan kelas dengan cara mengembangkan pemikiran anak agar lebih bermakna dengan bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

D. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN BERBASIS CTL

a). Adanya kerja sama, sharing dengan teman dan saling menunjang

b). Siswa aktif dan kritis, belajar dengan bergairah, menyenangkan dan tidak membosankan, serta guru kreatif

c). Pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber

d). Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa misalnya: peta, gambar, diagaram, dll.

e). Laporan kepada orang tua bukan sekedar rapor akan tetapi hasil karya siswa, laporan praktikum, dll.

Menurut Blanchard, ciri-ciri kontekstual:

a). Menekankan pada pentingnya pemecahan masalah.

b). Kegiatan belajar dilakukan dalam berbagai konteks

c). Kegiatan belajar dipantau dan diarahkan agar siswa dapat belajar mandiri.

d). Mendorong siswa untuk belajar dengan temannya dalam kelompok atau secara mandiri.

e). Pelajaran menekankan pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda.

f). Menggunakan penilaian otentik

Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam CTL, yaitu Kata kunci dari Pembelajaran Kontekstual (CTL) adalah:

a). Real-world learning

b). Mengutamakan pengalaman nyata

c). Berpikir tingkat tinggi

d). Berpusat pada siswa

e). Siswa aktif, kritis, dan kreatif

f). Pengetahuan bermakna dalam kehidupan

g). Dekat dengan kehidupan nyata

h). Perubahan perilaku

i). Siswa praktik, bukan menghafal

j). Learning bukan teaching

k). Pendidikan bukan pengajaran

l). Pembentukan ‘manusia’ bukan ‘robot’

m). Memecahkan masalah

n). Siswa ‘akting’, guru ‘sutradara’

o). Hasil belajar diukur dengan berbagai cara, bukan hanya dengan tes

E. PENDEKATAN CTL

Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001). Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menhadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk meggapinya.

Terdapat beberapa pendekatan dalam pembelajaran kontekstual (CTL), antara lain:

a). Problem based learning

b). Authentic Instuction

c). Inquiry based learning

d). Project based learning

e). Work based learning

f). Service learning

g). Cooperative Learning

Sedang model pembelajarang yang dapat diterpakan dalam CTL:

a). DI (Direct Instruction)

b). CL (Cooperative Learning)

c). PBI (Problem Based Instruction)

d). Gabungan

F. IMPLEMENTASI CTL

Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.

Sesuai dengan faktor kebutuhan individual siswa, maka untuk dapat mengimplementasikan pembelajaran dan pengajaran kontekstual guru seharusnya;

* Merencanakan pembelajaran sesuai dengan perkem-bangan mental (developmentally appropriate) siswa.

* Membentuk group belajar yang saling tergantung (interdependent learning groups).

Mempertimbangan keragaman siswa (disversity of students).

* Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri (self-regulated learning) dengan 3 karakteristik umumnya (kesadaran berpikir, penggunaan strategi dan motivasi berkelanjutan).

* Memperhatikan multi-intelegensi (multiple intelli-gences) siswa.

* Menggunakan teknik bertanya (quesioning) yang meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan pemecahan masalah dan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

* Mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna jika ia diberi kesempatan untuk bekerja, menemukan, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru (contructivism).

* Memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri (bukan hasil mengingat sejumlah fakta).

* Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui pengajuan pertanyaan (quesioning).

Penerapan CTL dalam kelas langkahnya adalah sebagi berikut:

a). Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan

b). cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri

c). pengetahuan dan keterampilan barunya.

d). Melaksanakan kegiatan inkuiri untuk semua topk

e). Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya

f). Ciptakan ‘masyarakat belajar’ (belajar dalam kelompok-kelompok)

g). Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran

h). Lakukan refleksi di akhir pertemuan

i). Lakukan penilaian sebenarnya dengan berbagai cara.

Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerjasama (cooperating) dan mentransfer (transferring).

1. Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.

2. Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.

3. Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.

4. Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.

5. Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan.

G. PERAN GURU DALAM PROSES PENGAJARAN KONTEKSTUAL

Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih berurusan dengan trategi daripada memberi informasi. Guru hanya megelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi siswa. Proses belajar mengajar lebih diwarnai Student centered daripada teacher centered.

Menurut Depdiknas guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut:

a). Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa .

b). Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama.

c). Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaiykan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual.

d). Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka.

e). Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa, dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refeksi terhadap rencana pemebelajaran dan pelaksanaannya.

Pembelajaran dengan pendekatan CTL adalah merupakan konsep belajar ayng membantu guru dalam mengkaitkan antara materi yang dipelajarinya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetaahuan yang dimilikinya dan penerapanya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen pembelaaajaaran efektif (Nurhadi; 2005) yaitu: Konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya.

Eksperimen yang dilaakukan yaitu penerapan pembelajaran dengan pendekatan CTL untuk memaksimalkan hasil belajar siswa dalam penelitian ini adalah sangat prroduktif, disini guru dituntut untuk menghidupkan kelas dengan cara mengembangkan pemikiran anak agar lebih bermakna dengan bekerja sendiri, menemukan sendiri pengetahuan dan keterampialan bertanya. Sehingga model pembelajaran dengan penekatan CTL dalam penelitian ini merupakan model pembelajaran yang efektif yang dapat memaksimalkan hasil belajar siswa secara maksimal, oleh karena itu hasil belajar siswa sebagai tolok ukur harus d uji kebenaranya.

H. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN METODE CTL

1). Kelebihan CTL (Contextual Teaching and Learning)

a). Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.

b). Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.

2). Kelemahan CTL (Contextual Teaching and Learning)

a). Guru lebih intensif dalam membimbing karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.

b). Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide – ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi – strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.

BAB III

PENUTUP

I. SIMPULAN

Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari,sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas,sedikit demi sedikit,dan dari proses mengkonstruksi sendri sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

Tujuh Komponen CTL:

  1. Konstruktivisme
  2. Inquiry
  3. Questioning
  4. Learning Community
  5. Modeling
  6. Reflection
  7. Authentic Assessment

Penerapan CTL dalam kelas langkahnya adalah sebagi berikut:

v Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan

v cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri

v pengetahuan dan keterampilan barunya.

v Melaksanakan kegiatan inkuiri untuk semua topk

v Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya

v Ciptakan ‘masyarakat belajar’ (belajar dalam kelompok-kelompok)

v Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran

v Lakukan refleksi di akhir pertemuan

v Lakukan penilaian sebenarnya dengan berbagai cara.

Karakteristik Pembelajaran Berbasis CTL:

* Kerjasama

* Saling menunjang

* Menyenangkan

* Tidak membosankan

* Belajar dengan bergairah

* Pembelajaran terintegrasi

* Menggunakan berbagai sumber

* Siswa aktif

DAFTAR PUSTAKA

Baharudin, H.2008. Teori Belajar & Pembelajaran. Jogjakarta: Aa-Ruzz Media Group

http://ipankreview.wordpress.com/tag/karakteristik/

http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-model-pembelajaran-contextual-teaching-and-learning-ctl.php

http://www.muhfida.com/modelpembelajaran.html

http://anisah89.blogspot.com/2009/02/kelemahan-dan-kelebihan-ctl-dan-pakem.html

CONVERSATION

1 comments:

Back
to top